Minggu, 11 September 2016

H 16  Semenjak kembali ke Malang

Untuk satu hal, aku ndak pulang. Seperti tahun lalu, Idul Adha tahun ini aku akan merayakannya di Malang, mulai dari Shalat Ied di lapangan rektorat, nunggu paket daging dari boyolali, dan entah akan sama seperti tahun lalu, mungkin tahun ini juga ndak dapet jatah daging XD. Daging mulu yang di bicarakan, yang terberat dan terlewatkan  adalah ndak bisa bakar-bakar bareng serumah.

Sudah 2 minggu lebih aku kembali ke rutinitas di malang. Sudah seminggu perkuliahan berjalan. Setelah dua bulan nganggur ria di boyolali, sampai malang langsung di tembak dengan berbagai kegiatan, dan banyak juga yang ku abaikan. Masih aras-aras en. Semoga segera terbiasa dengan kegiatan di sini, toh setahun yang lalu, dinamika-dinamika baik di kampus maupun di luar juga sudah kulalui. walau banyak blunder juga. Semoga untuk kedepan, bisa terlalui dengan lancar, dikuatkan punggung untuk mengemban amanah lainnya. Aamiin Ya Rabb T.T

Banyak yang terlalui semenjak meninggalkan rumah, melaui satu tahun di Malang. Adek-adek sudah gede-gede, sudah mulai melalui kompleks nya dunia remaja. Ayub yang mulai neko-neko dalam kehidupan nya di Nuris, sedih tapi tak apa, biarlah jadi pelajaran, biar terlampaui fase neko-neko nya, toh tak terhitung juga masalah ku waktu di SMP, InsyaAllah aku yakin, ia akan tambah matang dibanding anak-anak yang lainnya.

Hani, sudah lama sekali aku menganggapnya anak-anak. Sampai tak terasa, ia sudah menjadi gadis di usia nya yang hampir menginjak 15 tahun, tahun depan sudah SMA. Ndak terasa ia akan melalui fase 4 tahunku yang lalu. Yapp semoga di usia yang hampir 15 tahun ini diberi keistiqomahan dalam menjaga diri. Aku sempat ragu, tapi ada sifat lurus "hanif" dalam dirinya. Aku yakin ia yang ndak banyak masalah kedepannya.

Hudza, ia adalah sosok yang aku pun perlu belajar banyak darinya, dia lebih matang diusia nya yang menginjak 17 tahun. Ia melampaui ekspektasi ku. Tak ada lagi keraguan bahwa suatu saat ia akan melampaui kakaknya yang satu ini. Semoga di beri kemudahan dalam segala urusannya. Barakallah Wa Innalillah, amanahnya sebagai Pembantu utama OSIS SMAIT NH. Tak pernah terbetik sedikit pun ia akan melebihi ekspektasi ku. Tak ada pesan khusus karena Ia akan melampaui ku dengan caranya sendiri. Yupp aku tak bisa memungkiri bahwa aku bangga padanya.

Untuk kedua mas-mas ku, Mas Usam dan Mas Ahmad tak ada ungkapan kecuali kebanggaan, bahwa sudah hampir melampaui studi masing-masing. Mas Usam yang menjadi contoh ideal sebagai kakak pertama, yang sekarang sedang menyelesaikan studi S2 nya. Semoga dimudahkan segala urusannya di bogor, jangan berhenti menginspirasi, ditunggu karya nya sebagai peneliti :D Oh ya, gek ndang nikah.

Untuk Mas Ahmad, di usia nya yang ke 21, tetap jadi perekat antara saudara satu dan yang lainnya, karena pada akhirnya aku tau ndak ada yang dapat mencairkan suasana keluarga tanpa kehadiranmu. Terimakasih telah menjadi penuntun segala polemik di kehidupanku, di malang, maupun di boyolali, semenjak dahulu. Semoga dipermudah segala urusan, termasuk lulus tahun depan, InsyaAllah :)

Mungkin seperti itu, luangkan waktu untuk saling mendoakan, jaga soliditas antar kita daan See You On The Top InsyaAllah.

00.15




Kamis, 18 Agustus 2016

71 Tahun Indonesiaku


Pin Tauhid Laskar Hizbullah (Sumber : Islamedia / Musium KNIL Belanda)

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”
Alinea ke 3 UUD 1945

Adalah salah satu kutipan yang tidak bisa diubah oleh siapapun selama negara ini berdiri. Tak ada yang berhak mengganti eksistensi islam dalam berdirinya negeri ini. Perlu diketahui, Undang-Undang Dasar 1945 bersifat pakem, tidak ada yang mengubahnya yang berarti sama dengan membubarkan negara ini, yang berarti mengganti ideologi dan jati diri negeri ini. Tiga belas kalimat diatas perlu di pahami, dimana Ulama Indonesia pada zaman kemerdekaan ingin menyampaikan pesan bahwa, negeri ini berdiri atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan di buktikan dengan ikhtiar-ikhtiar luhur pendahulu negeri ini. Yang sekali lagi, siapapun tidak bisa merubah kalimat tersebut, satu katapun, selama negari ini berdiri.

                Kita, sebagai kaum muslimin harusnya bersyukur karena kalimat tersebut tidak dicoret seperti halnya tujuh kata dari Djakarta Charter, atas lapang dada dan legowo nya jiwa para ulama di zaman kemerdekaan. Namun sangat di sayangkan, atas ke ”lapang dada” an ulama muslim zaman kemerdekaan, malah di multi tafsirkan oleh kaum sekuler untuk mengurangi hak konstitusi kaum muslimin itu sendiri. Namun dengan adanya kutipan alinea ke tiga dari UUD 1945 tersebut. Memberikan asa dalam sejarah indonesia. Dimana eksistensi islam masih melekat dalam jati diri bangsa ini. Menjadi contoh tekstual yang kuat yang tidak mudah untuk di multi tafsirkan oleh orang-orang sekuler yang berusaha menjauhkan islam dalam sejarah bangsa indonesia.

                Sepak terjang perjuangan indonesia tidak bisa dipungkiri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Mulai dari Sultan Baabullah yang mengusir portugis dari ternate dengan senjatanya panah api beracun, Adipati Unus yang mengerahkan armada kapalnya, mengarungi lautan indonesia demi mengusir portugis dari malaka, Pattimura yang sejarahnya dibelokkan sebagai pemeluk nasrani, hingga resolusi jihad oleh ulama jawa timur untuk melawan penjajah pada 10 November 1945 di surabaya. Semuanya terangkum dalam sejarah emas indonesia.

 Masih banyak lagi pejuang islam yang menorehkan sejarahnya mengusir penjajah, dan mungkin tak terkenal di buku-buku pelajaran di kurikulum pendidikan sejarah. Maka itu kita sebagai kaum muslim patut berbangga dengan perjuangan para rois yang ulama pendahulu kita, serta mengorek pengaruh islam terhadap kemerdekaan indonesia. Muhammad Natsir, seperti yang disampaikan dalam orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di Masjid Al Furqon di Jakarta pada tahun 2009, menyampaikan terdapat tiga tantangan dakwah di Indonesia. Ada tiga hal yang perlu di waspadai. Yang pertama adalah pemurtadan, yang kedua adalah sekulerisasi, dan yang terakhir adalah nativisasi.

Pemurtadan di Indonesia sangatlah gencar, sudah bukan rahasia umum bahwa indonesia sudah mengalami krisis pemurtadan. Pemurtadan terselubung tersebut mengincar kalangan yang menengah kebawah. Tentu kita tidak bisa diam begitu saja, mulai dari hal kecil, membantu saudara terdekat terlebih dahulu secara materi maupun aqidah. Karena, kaum muslimin pun juga harus mengintrospeksi, dengan kepeka an sosial dengan membantu saudara seiman agar tidak terjerumus dalam jurang pemurtadan. Tetapi juga tegas kepada orang-orang non muslim yang menyebarkan agama mereka kepada saudara-saudara seiman yang dimainkan aqidahnya begitu saja.

Masalah kedua adalah tentang sekulerisasi. Sekulerisasi merupakan paham dimana agama dan negara harus terpisahkan satu sama lain. Kita sebagai seorang muslim hendaknya tidak meng iya kan sekulerisasi. Karena pada dasarnya, Allah mengutus Rasulullah untuk dijadikan contoh yang real. Dimana setiap sunnah yang di terapkan rosulullah perlu dijadikan panutan bagi setiap muslim. Mulai dari contoh yang kecil seperti memasuki kamar mandi, hingga contoh yang besar seperti bernegara, semuanya diatur dalam Al Qur’an dan As Sunnah, kita sepatutnya sebagai seorang muslim tidak memisahkan keduanya (red - agama dan negara).

Yang ketiga dan yang masih menyambung dengan bahasan kita di awal, yaitu nativisasi. Sedikit belajar tentang Nativisasi, nativisasi adalah usaha-usaha untuk mengembalikan pemikiran-pemikiran orang Indonesia, kepada sesuatu yang di anggap ‘native’ atau ‘asli’. Orang-orang liberal menjadikan paham ini untuk menyerang paham islam yang sudah mengakar pada sebuah daerah di Indonesia. Sehingga paham islam yang secara sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat tercerabut begitu saja di kalangan masyarakat. Paham ini menghilangkan nilai-nilai islam di Indonesia dan membawa masyarakat menjadi primitif jauh kebelakang.

Dalam momen 17 agustus ini, banyak hikmah yang bisa kita petik, dimana islam dan jiwa nasionalis dalam islam itu sendiri tidak bisa dipisahkan. Mendengar Bung Tomo melontarkan takbir dalam akhir orasinya, maka tak bisa dipungkiri bahwa nasionalisme melekat pada nilai-nilai islam, ketika kita melihat sejarah islam yang penuh peluh dan darah dalam perjuangannya, maka akan sayang sekali, jati diri islam yang diturunkan oleh pejuang islam pada masa kemerdekaan hilang begitu saja. Kita perlu menyadarinya sebagai seorang muslim, yang memiliki kewajiban untuk menyampaikan syiar ulama terdahulu. Menjadikan Islam tumbuh subur di Indonesia, seperti yang diharapkan para ulama. 

“Untuk menghancurkan suatu bangsa / negara, maka hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya!”
Asep Kambali

Yuk belajar sejarah kita sendiri, belajar sejarah Islam di Indonesia


01:18
18 agustus 2016
Dirgahayu Indonesiaku

Abdurahman Al Faruq
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya
 

Kamis, 11 Agustus 2016

Witing Tresno Jalaran Soko?





Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai- Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Ma’idah 5 : 54)

Sebelumnya saya buka dulu dengan ayat diatas, karena kenyataannya, banyak hal yang perlu kita renungi dari ayat tersebut. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari banyak kita menemukan fenomena, dimana antar harokah atau pergerakan yang saling menyudutkan, saling beradu hujjah yang tidak ada habisnya, bahkan bermusuhan hanya karena berbeda dalam salah suatu pedapat , padahal dalam kenyataannya mereka sesama muslim, sesama saudara nya, yang memiliki satu tujuan, yaitu mensyi’arkan islam ke penjuru bumi.

                Sedangkan, ketika kita berhadapan dengan orang yang non muslim malah kita memberikan sikap yang sebaliknya. Memberi pembenaran dalam berbagai aspek. Memberi pembenaran boleh saja, malah islam mengharuskan bersikap adil kepada non muslim sekali pun, tapi ketika sudah masuk dalam ranah yang tak bisa ditolerir, kita wajib tegas kepada mereka (baca : Non Muslim). Atas dasar pluralisme, toleransi serta relativisme, sebagian orang membela mati-matian terhadap non muslim atau boleh dibilang kepada orang kafir. Sebagai contohnya adalah pembenaran terhadap LGBT, pembenaran atas semua agama adalah sebuah kebenaran, dan lain sebagainya.

                Hal tersebut tentunya kontras dengan apa yang diperintahkan Allah dalam QS Al Maidah ayat 54 diatas. Hendaknya ketika kita bertemu dengan saudara kita sesama muslim. Minimal memberikan senyuman yang tulus. Memulai untuk mengucapkan salam ketika bertemu, walaupun saudara kita berbeda dalam harokah atau pergerakannya.

                Lha wong dalam kenyataannya, ketika sudah mendengar kabar tentang saudaranya berbeda harokah, sudah muncul feel atau dzon yang buruk satu sama lain. Padahal belum bertemu satu sama lain. Bandingkan ketika bertemu sudah memberikan salam terlebih dahulu. Memberikan senyuman yang tulus, lalu kemudian disusul dengan tawaran makan bersama, njajakne. Ketika semuanya berjalan baik maka akan terjadi diskusi didalamnya. Boleh berbeda pendapat, tapi kembali ke ayat tadi, bersikap lemah lembut terhadap sesamanya, maka akan terjalin diskusi yang sehat antara satu sama lain.
                Tentu saja hal tersebut sangat indah ketika bisa terealisasi. Dengan memulai hal kecil tersebut, akan tercipta kerukunan dalam berharokah. Hingga pada suatu saat dan bahkan sudah terealisasi akan terjadi suatu sinergi dalam harokah satu dan yang lainnya. Maka akan ada mimpi dimana ketika saudara muslim di  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia misalkan meminta perlindungan di parlemen kepada Partai Keadilan Sejahtera, maka akan di cover antar jamaah. Pun sebaliknya, Ketika Partai Keadilan Sejahtera tertimpa musibah tekanan dari media. Pers, atau media cetak maupun elektronik dari Hidayatullah milik Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan memberikan berita yang menjadi cover bagi jamaah lainnya. Begitu pula kawan Muhammadiyah yang memberikan perlindungan dalam kasus siyono tempo waktu yang lalu. Yang akhirnya memberikan pelajaran penting untuk negeri ini. Semuanya dimulai dengan hal kecil tersebut. Senyum, salam dan njajakne.

Oh Ya, bicara njajakne, selalu ada hal yang bisa kita bicarakan tentang makanan. Makanan menjadi sesuatu yang vital dalam pertemuan. Setiap bertamu, tidak ahsan rasanya ketika tak ada suguhan dalam penyambutannya. Ketika berkunjung di tempat jauh, makanan selalu jadi oleh-oleh untuk dibawa pulang. Bahkan ketika kita mukhoyyam, salah satu momen yang di kenang adalah ketika kita sedang masak bersama. Itulah makanan, tak hanya menjadi suplier untuk menguatkan fisik, lebih dari itu, ia menguatkan ukhuwwah diantara al akh.

 Benar kok, makanan menjadi wasilah yang tepat untuk menguatkan ukhuwah antara sesama saudara. Ketika kita liqo misalnya, makanan menjadi unsur yang penting didalamnya. Dalam hal lain seperti ketika ramadhan, maka tak ahsan kalo ndak ada buka bersama di rangkaian ramadhan kita.

Yah, bener juga ya apa yang disampaikan Ust Felix Siauw
“Witin Tresno Jalaran Soko Kuliner”
Hehe..

Yuk Rekatin Ukhuwah antar sesama
#IslamBersatu #RekatinUkhuwah

02:18
Boyolali 11-8-2016
Inspirasi setelah Liqo

Rabu, 06 April 2016

Dinamika Konflik

https://ukmiunwidhaklaten.wordpress.com/2013/01/26/syuro-adalah-salah-satu-bukti-kemuliaan-islam/
Aku :Ust Nendy, kita menghadapi prahara partai itu percaya DPP atau konferensi Pers nya Ust Fahri?

Ust Nendy :Yang resmi saja mas, pake prinsip Islami, taati Allah, Rasul dan Amir mu. Sudah ada majelisnya. Bukan Pribadi-pribadi.

Aku :Ohh Ya Ust, Syukran Jazakumullah

Ust Nendy :Mari Ingat cerita Khalid bin Walid, Jaga asas-asas berjamaah. Dalam jamaah kita minhaj, sistem, aturan dan lain sebagainya. Ana juga kehilangan Fahri, Tapi fahri sedang khilaf, dan menganggap remeh sdm yang lain termasuk qiyadah.
Maka beliau harus diluruskan. Kita tunggu fahri-fahri berikutnya, antum dkk(Jleb!)

Ust Nendy :Sudah pernah terjadi sebelumnya, dan yang bertahan tetaplah jamaah dan sistemnya, InsyaAllah tangan Allah bersama jamaah. YADULLAH ALA JAMAI. Kalo ada dinamika gini, baca lagi prinsip-prinsip dakwah, Fiqih Dakwah dlsb. InsyaAllah mantap di hati.

Dalam hati:Selalu saja memberikan jawaban yang kubutuhkan bahkan lebih.

Senin, 14 Maret 2016

LOVE

Lebaran tahun 2013
 Lebaran tahun 2014


bila kuingat siapa yang selalu di sini..
memahami semua egoku..
hanya mereka yang bisa..

bila kuingat siapa yang selalu kulupa..
namun tak pernah lupakanku..
hanya mereka yang bisa..
yang memberi cinta tanpa kata..

-Edcoustic-

Special moment, setahun sekali
Hanya ada satu moment kumpul lengkap sekeluarga

Minggu, 13 Maret 2016

...



Entah kenapa hari ini capek sekali, setelah menunaikan shalat magrib, aku merebahkan tubuh ini ke kasur, tak terasa aku tertidur. Lalu pada pukul 9 aku terbangun,sholat isya lalu mencari makan untuk mengganjal perut. Dalam persinggahan di nasi goreng pinggir jalan, aku memikirkan sesuatu.  Sebelum aku singgah di malang untuk kuliah di UB, aku sempat menonton tayangan TV tentang malang. Semuanya di gambarkan sebagai kota yang indah, penuh anak muda dan menggambarkan sebagai kota pelajar ke dua setelah kota jogja. Tak ayal disebut seperti itu, karena di dalamnya terdapat kampus-kampus besar yang menjadi rujukan, di dalamnya ada Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang(UM), UIN Maulana Malik Ibrahim, dan juga Universitas Muhammadiyah Malang, serta Politeknik Negeri dan Kampus-kampus lainnya.

Beda dengan malam minggu orang lain. Malam minggu ku hanya berisi makan nasi goreng, dan menulis blog. Itupun ketiduran terlebih dahulu ba’da magribnya. Kembali ke pembahasan tadi, setelah menonton tayangan tersebut, tak ada dalam pikiranku untuk merangkai masa depanku di malang. Tak ada dalam pikiranku mengunjungi kampus biru perjuangan dalam peta hidupku. Semuanya mengalir begitu saja, aku mengikhtiarkan sesuatu dan Allah memberikan hasil yang terbaik. Bukan yang terbaik ketika aku merencanakan masuk UNS dan menjadi barisan JN UKMI. Karena aku telah menemukan keluarga baru, keluarga UAKI UB. Bukan yang terbaik ketika aku melanjutkan jawa tengah menjadi tempat singgah ku setelah belasan tahun. Tapi jawa timur akan memberikan kejutan kepada ku. Seperti halnya kegagalanku masuk SMP Negeri Allah memberikan ku hadiah yang tak kusangka.

                Mungkin disini tidak ada Fornusa, disini tidak ada Nuris maupun NH, disini tidak ada asatidz Smp maupun Sma yang bisa kujadikan tempat pulang. Tidak ada kawan seperjuangan yang bertahun-tahun menemani kehidupanku. Semuanya baru, dan yang baru pasti memberikan kesan baru, memberikan kejutan yang tidak di sangka-sangka dalam kehidupanku kelak. Tinggal berikhtiar, luruskan niat untuk Nya lalu semuanya akan tergariskan sesuai rencana indahnya. Betapa indahnya rencana Allah selama ini


Malang, 12 Maret 2016
Aksara yang menemani ku terjaga. 23:58

Senin, 29 Februari 2016

Ukhuwah dan Perjuangan



Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. 
(QS As Shaf : 4)


Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salah seorang dari sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu berkata, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.”

Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” 
(Riwayat al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)


Dalam kehidupan Islam, Ukhuwah dan Perjuangan tak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan dalam diri muslim sejati. Maka bersyukurlah muslim yang di besarkan dalam lingkungan yang penuh nuansa dakwah sedari kecilnya.  

Selalu saja ada kisah - kisah hebat tentang ukhuwah, tentang perjuangan. semuanya terangkum menjadi satu dalam simpul islam. Dari zaman Rasulullah hingga sekarang,hingga diwariskan kepada orang-orang yang setia mengikutinya.

Kita tentu tak akan melupakan bagaimana puncak dari arkanul ukhuwah yang di lakukan oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Salah satu sahabat yang sebelum islamnya, menjadi salah satu penentang islam yang paling keras. Dalam pertempuran Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Ikrimah menjadi salah satu mesin tempur yang di takuti kaum romawi. Peringatan yang di lakukan oleh khalid pun tidak di gubris oleh Ikrimah. 

Katanya "Biarkan saja, ya Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah di beberapa medan peperangan. Pantaskah setelah masuk Islam, aku lari dari tentara Romawi ini? Tidak, sesekali tidak!"

Dan kisah heroik terjadi dalam pertempuran itu. Tiga Mujahid terkapar dalam keadaan kritis. Orang pertama bernama Al Harist, yang kedua Ikrimah dan yang terakhir adalah ayyash bin abi rabi'ah. Ketika minum di dekatkan ke mulut Al Harist, Al Harist melihat Ikrimah dalam keadaan yang sama kritisnya, ia meminta diberikan airnya kepada ikrimah. Namun ketika minum air tersebut didekatkan ke ikrimah. Ikrimah meminta air tersebut diberikan kepada ayyash, bahkan dalam keadaan kritis tersebut, mereka tak ada yang memikirkan dirinya sendiri, mereka hanya memikirkan nasib saudaranya. dan kisah berakhir ketika air sampai di mulut ayyash, ayyash telah syahid. ketika kembali kembali ke 2 sahabat sebelumnya, semuanya telah menemui kematian terbaiknya. Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

Pertempuran Qadisiyyah, juga menjadi saksi betapa ukhuwah demi perjuangan menyajikan kisah heroik para pendahulu. Pasukan yang dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqosh bejumlah 30.000 dihadang oleh sungai Tigris yang sedang meluap. Tak hanya itu, di seberang sungai di hadapkan 150.000 pasukan Persia. Waktu itu, pasukan muslimin dihadapkan oleh dilema besar. Menunggu musuh datang ataukan dengan cara apapun melewati sungai tigris yang sedang meluap tersebut. Lalu sang pasukan pun berbicara pada Sa'ad.

"Wahai Amir, kita akan menuju mereka. Sebab kita membawa futuhat yang mereka perlukan, bukan kita yang menanti mereka"


Maka sungai tigris menjadi saksi sebuah kekuatan ukhuwah. Dimana mereka, 30.000 pasukan bergandengan tangan tangan. menyebrangi sungai tigris yang sedang meluap, tidak ada satupun pasukan yang hanyut tebawa arus. Semuanya sampai tujuan, hanya ada satu baskom yang jatuh, dan hebatnya 30.000 pasukan tersebut rela mengobok-obok sungai tigris demi baskom saudaranya yang terjatuh. MasyaAllah.

Banyak sekali Ibroh yang bisa diambil dari siroh Nabi dan Shahabah. Semuanya memberikan contoh ideal bagaimana kita saling menjalani kehidupan, bagaimana kita bersosial, dengan saudara kita, dengan semua elemen.


Yup seperti itulah.

Akhir guratan.

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. 
- Salim A Fillah



Jumat, 29 Januari 2016

Hujan


    Musim penghujan selalu saja istimewa, ia membasahi tanah, menyuburkan tanaman dan melepas dehaga setelah lepas kemarau. Hujan selalu istimewa, ia selalu saja menyesuaikan keadaan, hujan mengikat bahagia menjadi semakin berarti, mengikat kesedihan menjadi semakin sendu. Selain itu, hujan mengikat rindu menjadi semakin membuncah. Dan sayangnya, aku dalam posisi itu, aku sedang merindu.

     Saat ini, hujan mewarnai rinduku. Ia mengingatkanku pada masa-masa terdahulu. Waktu kecil, aku selalu dimarahi karena mengotori lantai rumah seusai hujan-hujanan diluar. Hujan juga mengingatkan ku, ketika aku sendirian di sekolah, karena ummi lama menjemputku. Waktu itu hujanlah yang menemaniku, mewarnai hingga ia berarti sampai saat ini. kamu tau? hujan mengingatkanku kenapa ummi yang rela menjadi dua, antara dakwah dan anaknya. dari situlah aku mengerti urgensi tarbiyah.

     Hujan selalu istimewa. Ia mengingatkanku dengan sepakbola becek di masa SMP. Ia menemani keseruan kami, santri-santri dari berbagai penjuru nusantara dalam mewarnai harinya. Hujan mengingatkanku tentang masa-masa kritisku di SMA, ia adalah penghias perjalanan Wisma-Sekolah. Tak lupa, hujan juga masa perjuangan ku merintis 'dakwah' di ranah rohis, tepatnya dalam Musyawarah Wilayah II Forum Rohis Nusantara Jawa Tengah. Ketika itu hujan menjadi saksi, saksi sendunya kondisi dan konflik yang ada didalamnya , bahkan hujan menjadi  pelaku yang menyebabkan HP ku drop. XD

     Hujan, darinya kesabaran. Ia memancar pada saat getir di penghujung kemarau. Hujan, ia konsisten. Ia membasahi bumi pada waktu yang dinanti dengan setiap musimnya. ia memberi arti bagi yang bersyukur, tapi mengganjal hati bagi jiwa yang bakhil atas nikmat-Nya. Hujan, Ia adalah keajaiban Allah bagi yang mau berfikir, tapi menjadi angin lalu bagi kebanyakan orang. Kadang ia deras lalu reda begitu saja, kadang ia hanya datang dengan bulir-bulir kecilnya. Namun, tak jarang ia deras tanpa "ba-bi-bu". Tapi urgensinya, diluar kemampuan kita menebak-nebak, selalu banyak kejutan dan hikmah didalamnya. Diluar semuanya, hujan selalu istimewa tak tergantikan, walaupun oleh salju, atau guguran daun diluar sana. Aku tak butuh itu semua karena ada kisah yang tak tergantikan, karena hujan ada kisah ku didalamnya.
             
      Malang - Boyolali
      28 Agustus 2015 -- 28 Januari 2016
      Dalam Udara dingin tanpa hujan tepat 5 bulan