Senin, 31 Oktober 2016

Ada saat dimana tidak ada yang bisa dilakukan dalam pertengahan ngerjain UTS. Hingga akhirnya lari ke Blog, tempat dimana hati bisa "nyampah" sepuasnya. Tak ahsan sebenarnya, tapi tak apa, setidaknya ada yang bisa di sampaikan untuk mengurangi pikiran agar lebih plong  untuk melanjutkan mengerjakan tugas setelah ini.

Banyak yang terjadi akhir-akhir ini, Tasqif adek-adek berjalan lancar meskipun dalam banyak tekanan di pertengahan UTS. Mentoring Nurul Hayat  berjalan selama 3 minggu, dan aku mendapatkan amanah untuk masuk dalam proyek pembinaan Kota Malang dan yang terbaru, adek-adek Nur Hidayah bersilaturahmi ke malang dalam agenda lomba di Univ Negeri Malang, setidaknya memberi angin segar bagiku yang semakin rindu untuk bersilaturahmi dengan adek-adek serta ustadz yang sempat mengajar ketika aku kelas 12.

Semuanya berlalu begitu saja, seperti ketika SMA aku melewati berbagai masalah yang ada. Masalahnya mungkin ndak jauh beda, mungkin seputar tugas, dakwah, di bully dan lain sebagainya. ndak jauh beda, cuma berbeda bagaimana aku menyingkapinya. Toh pada akhirnya masalah di SMA terlewati juga, Tinggal ambil apa yang baik dimasalalu untuk di jadikan pelajaran hingga sekarang, hingga akhirnya membentuk diriku yang sekarang ini.

Mungkin apa yang dilalui sekarang ini terasa lebih berat dari SMA, terlihat lebih berat dari dulu ketika masih belum kuliah dan lain sebagainya. Yang jelas adalah satu kesamaan, dulu dan sekarang aku sama-sama mengeluh. Mungkin diri ini masih perlu introspeksi untuk mengurangi ngeluh, mengurangi males dan menunda waktu (wkwk), biar kejadian di SMA nda terulang lagi.

Pun Allah telah menjanjikan, akan memberikan masalah sesuai kadarnya, yang artinya sama saja masalah dulu dan sekarang, tinggal bagaimana sikap diri ini agar masalah yang dihadapi adalah masalah yang berkelas, bukan masalah sepele yang sedikit-sedikit keluhan yang keluar dari lisan kita. Dan janji Allah di ayat lainnya, kalo terlihat masalah kita sulit di depan mata, pasti ada celah-celah kemudahan didalam nya.
Ya Allah Semoga tugas ku berubah jadi mudah, dengan Engkau menguatkan punggung ini :D

Yuk ngerjain lagi 

22.34
Sebulan menguatkan hati

Selasa, 18 Oktober 2016

Refleksi Kopi

Pict : M Rifqi Ali Ghufran
Teringat wasiat seorang ustadz ;

"Dimanapun engkau berada, carilah peran terbaikmu disana"

Pada awal-awal pikiran masih idealis, mungkin memang hal tersebut mudah untuk direalisasikan, seolah gunung setinggi apapun dapat dilewati. Pada kenyataannya, melihat realitas sesungguhnya yang terjadi di tengah masyarkat, serasa kaki tak bisa di langkahkan, berat untuk meninggalkan zona nyaman. Merasa bahwa kita benar-benar berada di fraksi yang benar-benar asing dan terasing.

Suatu malam, aku merasakan hal yang menjadi refleksi pikiran. Jalan Sukarno Hatta beserta kedaraan kota lalu lalang di depan mata. "Patung pesawat" menjadi pajangan indah yang menghiasi sepanjang malam di kota malang. Dengan kopi di hadapan yang menemani. Lalu hati terguncang ketika realitas ada di depan mata. Ya, Inilah kehidupan Malang di malam hari.

Terlintas di pikiran tentang perjuangan murabbi besar kita, Sayyid Hasan Al Banna. Ia yang hidup di zaman yang penjajahan dalam arti sesungguhnya terjadi di mesir, yang pada waktu itu Inggris sedang menjajah negeri Anbiya tersebut. Mesir yang kala itu kemaksiatan merajalela. Mesir yang waktu itu sedang dalam keadaan terluka setelah Khilafah Utsmany di pojokkan sedemikian rupa. Saat itu umat islam sedang terluka.

AsSyahid Hasan Al Banna memulai dari hal-hal kecil yang tak terpikirkan oleh siapapun. Ia memulai dakwah nya dari cafe-cafe, dari warung kopi ke warung kopi lainnya. Membangkitkan ghirah para umat islam yang kala itu sedang tertidur, hingga terciptalah kader-kader pertama dalam kancah tarbiyah didunia. Umat yang bangkit dalam tekanan, umat islam saat itu bagaikan tanaman yang tumbuh di kerasnya beton. Tak sedikit cobaan besar yang dihadapi kala itu, penangkapan oleh polisi mesir, dianggap sebagai organisasi teroris, bahkan di khianati oleh presiden mesir yang kala itu adalah kader ikhwan itu sediri. Semuanya merupakan perjuangan besar, yang akhirnya terdiaspora hingga keseluruh dunia, termasuk Indonesia.

Ketika menilik zaman terbaik, zaman dimana Rasulullah SAW hidup, umat islam juga hidup dalam tekanan besar. Ketika belajar shiroh, pasti akan ada kisah tentang bilal bin rabah yang tubuhnya di tindih batu di panasnya terik matahari karena mempertahankan keimanannya. Kita tidak asing dengan nama khabab bin art, Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

Kadang memang terlintas rasa kesal dalam menjalani dakwah, malas mendapati panggilan yang menuntut untuk membina maupun mengurus amanah kepanitiaan, disisi lain masih ada amanah akademik dan amanah lainnya. Tapi mengingat refleksi pikiran, mengenai orang-orang terdahulu maupun qiyadah yang banting tulang mengabdikan dirinya penuh dalam dakwah, bahkan diri ini belum seujung kuku mengabdikan diri dalam dakwah.

Benar kata seorang ustadz, bahwa mau jutaan orang meninggalkan dakwah, dakwah akan tetap berjalan, tanpa ataupun dengan adanya kita. Karena sejatinya kitalah yang membutuhkan dakwah untuk menggapai jannah. Setiap zaman selalu ada pejuang, pengkhianat, dan musuh. Tinggal kita mau menjadi bagian apa dalam tinta zaman.

22.51
InsyaAllah Segera Terbiasa



Rabu, 12 Oktober 2016

Aku bingung memulai dari mana.
 
Pertengahan malam sudah biasa menemani keseharian. Sisa-sisa petrikor masih tercium, bekas hujan tadi sore. Akhir-akhir ini banyak kejadian besar yang terlewati. Mukhayam telah berlalu, binaan sudah mulai di survei, dan tentunya keputusan besar yang belum terbiasa sampai detik ini, semuanya masih menggelayuti pikiranku. Hey, aku masih terjebak dengan "last seen" mu setiap pagi. Semoga segera terbiasa, InsyaAllah.

Ada banyak hal yang kurindukan, tentang semua hal yang telah terlalui. Menjadi konsekuensi karena kita- lebih tepatnya aku, telah mengambil keputusan yang salah dari awal, aku menyesal telah membuat langkah awal yang salah, maafkan aku karena telah membawa kepada kutub yang memalingkan mu dari jalan yang seharusnya, aku minta maaf. Ya, sungguh aku minta maaf. 

Atau mungkin aku yang ke ge er an, bahwa ternyata kamu sudah terbiasa. Kamu tidak masalah dari semua yang aku putuskan, itu malah yang seharusnya terjadi. Tak apa, yang jelas aku sudah meminta maaf, karena aku menyesal telah memulai segalanya, jadi walaupun kamu ndak membalas pesan ku terdahulu, semua telah usai bagi diriku sendiri, tak ada yang perlu ku sampaikan lagi.

00:23
InsyaAllah Terbiasa di ribuan malam selanjutnya

Minggu, 11 September 2016

H 16  Semenjak kembali ke Malang

Untuk satu hal, aku ndak pulang. Seperti tahun lalu, Idul Adha tahun ini aku akan merayakannya di Malang, mulai dari Shalat Ied di lapangan rektorat, nunggu paket daging dari boyolali, dan entah akan sama seperti tahun lalu, mungkin tahun ini juga ndak dapet jatah daging XD. Daging mulu yang di bicarakan, yang terberat dan terlewatkan  adalah ndak bisa bakar-bakar bareng serumah.

Sudah 2 minggu lebih aku kembali ke rutinitas di malang. Sudah seminggu perkuliahan berjalan. Setelah dua bulan nganggur ria di boyolali, sampai malang langsung di tembak dengan berbagai kegiatan, dan banyak juga yang ku abaikan. Masih aras-aras en. Semoga segera terbiasa dengan kegiatan di sini, toh setahun yang lalu, dinamika-dinamika baik di kampus maupun di luar juga sudah kulalui. walau banyak blunder juga. Semoga untuk kedepan, bisa terlalui dengan lancar, dikuatkan punggung untuk mengemban amanah lainnya. Aamiin Ya Rabb T.T

Banyak yang terlalui semenjak meninggalkan rumah, melaui satu tahun di Malang. Adek-adek sudah gede-gede, sudah mulai melalui kompleks nya dunia remaja. Ayub yang mulai neko-neko dalam kehidupan nya di Nuris, sedih tapi tak apa, biarlah jadi pelajaran, biar terlampaui fase neko-neko nya, toh tak terhitung juga masalah ku waktu di SMP, InsyaAllah aku yakin, ia akan tambah matang dibanding anak-anak yang lainnya.

Hani, sudah lama sekali aku menganggapnya anak-anak. Sampai tak terasa, ia sudah menjadi gadis di usia nya yang hampir menginjak 15 tahun, tahun depan sudah SMA. Ndak terasa ia akan melalui fase 4 tahunku yang lalu. Yapp semoga di usia yang hampir 15 tahun ini diberi keistiqomahan dalam menjaga diri. Aku sempat ragu, tapi ada sifat lurus "hanif" dalam dirinya. Aku yakin ia yang ndak banyak masalah kedepannya.

Hudza, ia adalah sosok yang aku pun perlu belajar banyak darinya, dia lebih matang diusia nya yang menginjak 17 tahun. Ia melampaui ekspektasi ku. Tak ada lagi keraguan bahwa suatu saat ia akan melampaui kakaknya yang satu ini. Semoga di beri kemudahan dalam segala urusannya. Barakallah Wa Innalillah, amanahnya sebagai Pembantu utama OSIS SMAIT NH. Tak pernah terbetik sedikit pun ia akan melebihi ekspektasi ku. Tak ada pesan khusus karena Ia akan melampaui ku dengan caranya sendiri. Yupp aku tak bisa memungkiri bahwa aku bangga padanya.

Untuk kedua mas-mas ku, Mas Usam dan Mas Ahmad tak ada ungkapan kecuali kebanggaan, bahwa sudah hampir melampaui studi masing-masing. Mas Usam yang menjadi contoh ideal sebagai kakak pertama, yang sekarang sedang menyelesaikan studi S2 nya. Semoga dimudahkan segala urusannya di bogor, jangan berhenti menginspirasi, ditunggu karya nya sebagai peneliti :D Oh ya, gek ndang nikah.

Untuk Mas Ahmad, di usia nya yang ke 21, tetap jadi perekat antara saudara satu dan yang lainnya, karena pada akhirnya aku tau ndak ada yang dapat mencairkan suasana keluarga tanpa kehadiranmu. Terimakasih telah menjadi penuntun segala polemik di kehidupanku, di malang, maupun di boyolali, semenjak dahulu. Semoga dipermudah segala urusan, termasuk lulus tahun depan, InsyaAllah :)

Mungkin seperti itu, luangkan waktu untuk saling mendoakan, jaga soliditas antar kita daan See You On The Top InsyaAllah.

00.15




Kamis, 18 Agustus 2016

71 Tahun Indonesiaku


Pin Tauhid Laskar Hizbullah (Sumber : Islamedia / Musium KNIL Belanda)

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”
Alinea ke 3 UUD 1945

Adalah salah satu kutipan yang tidak bisa diubah oleh siapapun selama negara ini berdiri. Tak ada yang berhak mengganti eksistensi islam dalam berdirinya negeri ini. Perlu diketahui, Undang-Undang Dasar 1945 bersifat pakem, tidak ada yang mengubahnya yang berarti sama dengan membubarkan negara ini, yang berarti mengganti ideologi dan jati diri negeri ini. Tiga belas kalimat diatas perlu di pahami, dimana Ulama Indonesia pada zaman kemerdekaan ingin menyampaikan pesan bahwa, negeri ini berdiri atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan di buktikan dengan ikhtiar-ikhtiar luhur pendahulu negeri ini. Yang sekali lagi, siapapun tidak bisa merubah kalimat tersebut, satu katapun, selama negari ini berdiri.

                Kita, sebagai kaum muslimin harusnya bersyukur karena kalimat tersebut tidak dicoret seperti halnya tujuh kata dari Djakarta Charter, atas lapang dada dan legowo nya jiwa para ulama di zaman kemerdekaan. Namun sangat di sayangkan, atas ke ”lapang dada” an ulama muslim zaman kemerdekaan, malah di multi tafsirkan oleh kaum sekuler untuk mengurangi hak konstitusi kaum muslimin itu sendiri. Namun dengan adanya kutipan alinea ke tiga dari UUD 1945 tersebut. Memberikan asa dalam sejarah indonesia. Dimana eksistensi islam masih melekat dalam jati diri bangsa ini. Menjadi contoh tekstual yang kuat yang tidak mudah untuk di multi tafsirkan oleh orang-orang sekuler yang berusaha menjauhkan islam dalam sejarah bangsa indonesia.

                Sepak terjang perjuangan indonesia tidak bisa dipungkiri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Mulai dari Sultan Baabullah yang mengusir portugis dari ternate dengan senjatanya panah api beracun, Adipati Unus yang mengerahkan armada kapalnya, mengarungi lautan indonesia demi mengusir portugis dari malaka, Pattimura yang sejarahnya dibelokkan sebagai pemeluk nasrani, hingga resolusi jihad oleh ulama jawa timur untuk melawan penjajah pada 10 November 1945 di surabaya. Semuanya terangkum dalam sejarah emas indonesia.

 Masih banyak lagi pejuang islam yang menorehkan sejarahnya mengusir penjajah, dan mungkin tak terkenal di buku-buku pelajaran di kurikulum pendidikan sejarah. Maka itu kita sebagai kaum muslim patut berbangga dengan perjuangan para rois yang ulama pendahulu kita, serta mengorek pengaruh islam terhadap kemerdekaan indonesia. Muhammad Natsir, seperti yang disampaikan dalam orasi ilmiah Dr. Adian Husaini di Masjid Al Furqon di Jakarta pada tahun 2009, menyampaikan terdapat tiga tantangan dakwah di Indonesia. Ada tiga hal yang perlu di waspadai. Yang pertama adalah pemurtadan, yang kedua adalah sekulerisasi, dan yang terakhir adalah nativisasi.

Pemurtadan di Indonesia sangatlah gencar, sudah bukan rahasia umum bahwa indonesia sudah mengalami krisis pemurtadan. Pemurtadan terselubung tersebut mengincar kalangan yang menengah kebawah. Tentu kita tidak bisa diam begitu saja, mulai dari hal kecil, membantu saudara terdekat terlebih dahulu secara materi maupun aqidah. Karena, kaum muslimin pun juga harus mengintrospeksi, dengan kepeka an sosial dengan membantu saudara seiman agar tidak terjerumus dalam jurang pemurtadan. Tetapi juga tegas kepada orang-orang non muslim yang menyebarkan agama mereka kepada saudara-saudara seiman yang dimainkan aqidahnya begitu saja.

Masalah kedua adalah tentang sekulerisasi. Sekulerisasi merupakan paham dimana agama dan negara harus terpisahkan satu sama lain. Kita sebagai seorang muslim hendaknya tidak meng iya kan sekulerisasi. Karena pada dasarnya, Allah mengutus Rasulullah untuk dijadikan contoh yang real. Dimana setiap sunnah yang di terapkan rosulullah perlu dijadikan panutan bagi setiap muslim. Mulai dari contoh yang kecil seperti memasuki kamar mandi, hingga contoh yang besar seperti bernegara, semuanya diatur dalam Al Qur’an dan As Sunnah, kita sepatutnya sebagai seorang muslim tidak memisahkan keduanya (red - agama dan negara).

Yang ketiga dan yang masih menyambung dengan bahasan kita di awal, yaitu nativisasi. Sedikit belajar tentang Nativisasi, nativisasi adalah usaha-usaha untuk mengembalikan pemikiran-pemikiran orang Indonesia, kepada sesuatu yang di anggap ‘native’ atau ‘asli’. Orang-orang liberal menjadikan paham ini untuk menyerang paham islam yang sudah mengakar pada sebuah daerah di Indonesia. Sehingga paham islam yang secara sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat tercerabut begitu saja di kalangan masyarakat. Paham ini menghilangkan nilai-nilai islam di Indonesia dan membawa masyarakat menjadi primitif jauh kebelakang.

Dalam momen 17 agustus ini, banyak hikmah yang bisa kita petik, dimana islam dan jiwa nasionalis dalam islam itu sendiri tidak bisa dipisahkan. Mendengar Bung Tomo melontarkan takbir dalam akhir orasinya, maka tak bisa dipungkiri bahwa nasionalisme melekat pada nilai-nilai islam, ketika kita melihat sejarah islam yang penuh peluh dan darah dalam perjuangannya, maka akan sayang sekali, jati diri islam yang diturunkan oleh pejuang islam pada masa kemerdekaan hilang begitu saja. Kita perlu menyadarinya sebagai seorang muslim, yang memiliki kewajiban untuk menyampaikan syiar ulama terdahulu. Menjadikan Islam tumbuh subur di Indonesia, seperti yang diharapkan para ulama. 

“Untuk menghancurkan suatu bangsa / negara, maka hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya!”
Asep Kambali

Yuk belajar sejarah kita sendiri, belajar sejarah Islam di Indonesia


01:18
18 agustus 2016
Dirgahayu Indonesiaku

Abdurahman Al Faruq
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya
 

Kamis, 11 Agustus 2016

Witing Tresno Jalaran Soko?





Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai- Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Ma’idah 5 : 54)

Sebelumnya saya buka dulu dengan ayat diatas, karena kenyataannya, banyak hal yang perlu kita renungi dari ayat tersebut. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari banyak kita menemukan fenomena, dimana antar harokah atau pergerakan yang saling menyudutkan, saling beradu hujjah yang tidak ada habisnya, bahkan bermusuhan hanya karena berbeda dalam salah suatu pedapat , padahal dalam kenyataannya mereka sesama muslim, sesama saudara nya, yang memiliki satu tujuan, yaitu mensyi’arkan islam ke penjuru bumi.

                Sedangkan, ketika kita berhadapan dengan orang yang non muslim malah kita memberikan sikap yang sebaliknya. Memberi pembenaran dalam berbagai aspek. Memberi pembenaran boleh saja, malah islam mengharuskan bersikap adil kepada non muslim sekali pun, tapi ketika sudah masuk dalam ranah yang tak bisa ditolerir, kita wajib tegas kepada mereka (baca : Non Muslim). Atas dasar pluralisme, toleransi serta relativisme, sebagian orang membela mati-matian terhadap non muslim atau boleh dibilang kepada orang kafir. Sebagai contohnya adalah pembenaran terhadap LGBT, pembenaran atas semua agama adalah sebuah kebenaran, dan lain sebagainya.

                Hal tersebut tentunya kontras dengan apa yang diperintahkan Allah dalam QS Al Maidah ayat 54 diatas. Hendaknya ketika kita bertemu dengan saudara kita sesama muslim. Minimal memberikan senyuman yang tulus. Memulai untuk mengucapkan salam ketika bertemu, walaupun saudara kita berbeda dalam harokah atau pergerakannya.

                Lha wong dalam kenyataannya, ketika sudah mendengar kabar tentang saudaranya berbeda harokah, sudah muncul feel atau dzon yang buruk satu sama lain. Padahal belum bertemu satu sama lain. Bandingkan ketika bertemu sudah memberikan salam terlebih dahulu. Memberikan senyuman yang tulus, lalu kemudian disusul dengan tawaran makan bersama, njajakne. Ketika semuanya berjalan baik maka akan terjadi diskusi didalamnya. Boleh berbeda pendapat, tapi kembali ke ayat tadi, bersikap lemah lembut terhadap sesamanya, maka akan terjalin diskusi yang sehat antara satu sama lain.
                Tentu saja hal tersebut sangat indah ketika bisa terealisasi. Dengan memulai hal kecil tersebut, akan tercipta kerukunan dalam berharokah. Hingga pada suatu saat dan bahkan sudah terealisasi akan terjadi suatu sinergi dalam harokah satu dan yang lainnya. Maka akan ada mimpi dimana ketika saudara muslim di  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia misalkan meminta perlindungan di parlemen kepada Partai Keadilan Sejahtera, maka akan di cover antar jamaah. Pun sebaliknya, Ketika Partai Keadilan Sejahtera tertimpa musibah tekanan dari media. Pers, atau media cetak maupun elektronik dari Hidayatullah milik Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan memberikan berita yang menjadi cover bagi jamaah lainnya. Begitu pula kawan Muhammadiyah yang memberikan perlindungan dalam kasus siyono tempo waktu yang lalu. Yang akhirnya memberikan pelajaran penting untuk negeri ini. Semuanya dimulai dengan hal kecil tersebut. Senyum, salam dan njajakne.

Oh Ya, bicara njajakne, selalu ada hal yang bisa kita bicarakan tentang makanan. Makanan menjadi sesuatu yang vital dalam pertemuan. Setiap bertamu, tidak ahsan rasanya ketika tak ada suguhan dalam penyambutannya. Ketika berkunjung di tempat jauh, makanan selalu jadi oleh-oleh untuk dibawa pulang. Bahkan ketika kita mukhoyyam, salah satu momen yang di kenang adalah ketika kita sedang masak bersama. Itulah makanan, tak hanya menjadi suplier untuk menguatkan fisik, lebih dari itu, ia menguatkan ukhuwwah diantara al akh.

 Benar kok, makanan menjadi wasilah yang tepat untuk menguatkan ukhuwah antara sesama saudara. Ketika kita liqo misalnya, makanan menjadi unsur yang penting didalamnya. Dalam hal lain seperti ketika ramadhan, maka tak ahsan kalo ndak ada buka bersama di rangkaian ramadhan kita.

Yah, bener juga ya apa yang disampaikan Ust Felix Siauw
“Witin Tresno Jalaran Soko Kuliner”
Hehe..

Yuk Rekatin Ukhuwah antar sesama
#IslamBersatu #RekatinUkhuwah

02:18
Boyolali 11-8-2016
Inspirasi setelah Liqo

Rabu, 06 April 2016

Dinamika Konflik

https://ukmiunwidhaklaten.wordpress.com/2013/01/26/syuro-adalah-salah-satu-bukti-kemuliaan-islam/
Aku :Ust Nendy, kita menghadapi prahara partai itu percaya DPP atau konferensi Pers nya Ust Fahri?

Ust Nendy :Yang resmi saja mas, pake prinsip Islami, taati Allah, Rasul dan Amir mu. Sudah ada majelisnya. Bukan Pribadi-pribadi.

Aku :Ohh Ya Ust, Syukran Jazakumullah

Ust Nendy :Mari Ingat cerita Khalid bin Walid, Jaga asas-asas berjamaah. Dalam jamaah kita minhaj, sistem, aturan dan lain sebagainya. Ana juga kehilangan Fahri, Tapi fahri sedang khilaf, dan menganggap remeh sdm yang lain termasuk qiyadah.
Maka beliau harus diluruskan. Kita tunggu fahri-fahri berikutnya, antum dkk(Jleb!)

Ust Nendy :Sudah pernah terjadi sebelumnya, dan yang bertahan tetaplah jamaah dan sistemnya, InsyaAllah tangan Allah bersama jamaah. YADULLAH ALA JAMAI. Kalo ada dinamika gini, baca lagi prinsip-prinsip dakwah, Fiqih Dakwah dlsb. InsyaAllah mantap di hati.

Dalam hati:Selalu saja memberikan jawaban yang kubutuhkan bahkan lebih.

Senin, 14 Maret 2016

LOVE

Lebaran tahun 2013
 Lebaran tahun 2014


bila kuingat siapa yang selalu di sini..
memahami semua egoku..
hanya mereka yang bisa..

bila kuingat siapa yang selalu kulupa..
namun tak pernah lupakanku..
hanya mereka yang bisa..
yang memberi cinta tanpa kata..

-Edcoustic-

Special moment, setahun sekali
Hanya ada satu moment kumpul lengkap sekeluarga

Minggu, 13 Maret 2016

...



Entah kenapa hari ini capek sekali, setelah menunaikan shalat magrib, aku merebahkan tubuh ini ke kasur, tak terasa aku tertidur. Lalu pada pukul 9 aku terbangun,sholat isya lalu mencari makan untuk mengganjal perut. Dalam persinggahan di nasi goreng pinggir jalan, aku memikirkan sesuatu.  Sebelum aku singgah di malang untuk kuliah di UB, aku sempat menonton tayangan TV tentang malang. Semuanya di gambarkan sebagai kota yang indah, penuh anak muda dan menggambarkan sebagai kota pelajar ke dua setelah kota jogja. Tak ayal disebut seperti itu, karena di dalamnya terdapat kampus-kampus besar yang menjadi rujukan, di dalamnya ada Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang(UM), UIN Maulana Malik Ibrahim, dan juga Universitas Muhammadiyah Malang, serta Politeknik Negeri dan Kampus-kampus lainnya.

Beda dengan malam minggu orang lain. Malam minggu ku hanya berisi makan nasi goreng, dan menulis blog. Itupun ketiduran terlebih dahulu ba’da magribnya. Kembali ke pembahasan tadi, setelah menonton tayangan tersebut, tak ada dalam pikiranku untuk merangkai masa depanku di malang. Tak ada dalam pikiranku mengunjungi kampus biru perjuangan dalam peta hidupku. Semuanya mengalir begitu saja, aku mengikhtiarkan sesuatu dan Allah memberikan hasil yang terbaik. Bukan yang terbaik ketika aku merencanakan masuk UNS dan menjadi barisan JN UKMI. Karena aku telah menemukan keluarga baru, keluarga UAKI UB. Bukan yang terbaik ketika aku melanjutkan jawa tengah menjadi tempat singgah ku setelah belasan tahun. Tapi jawa timur akan memberikan kejutan kepada ku. Seperti halnya kegagalanku masuk SMP Negeri Allah memberikan ku hadiah yang tak kusangka.

                Mungkin disini tidak ada Fornusa, disini tidak ada Nuris maupun NH, disini tidak ada asatidz Smp maupun Sma yang bisa kujadikan tempat pulang. Tidak ada kawan seperjuangan yang bertahun-tahun menemani kehidupanku. Semuanya baru, dan yang baru pasti memberikan kesan baru, memberikan kejutan yang tidak di sangka-sangka dalam kehidupanku kelak. Tinggal berikhtiar, luruskan niat untuk Nya lalu semuanya akan tergariskan sesuai rencana indahnya. Betapa indahnya rencana Allah selama ini


Malang, 12 Maret 2016
Aksara yang menemani ku terjaga. 23:58